Sabtu, 13 April 2013

Kumpulan Puisi Baru Dalam Karya Pujangga

puisi baru pujangga.jpg
Kumpulan puisi baru bisa kita lihat dalam berbagai karya puisi baru dari pujangga. Bentuk puisi ini mengalami pergeseran, terutama dalam bentuk dan format puisinya. Dengan kata lain ada perbedaan bentuk antara puisi lama dengan jenis puisi baru. Perbedaan ini terlihat dari karya puisi yang dibuat oleh para pujangga baru dalam kumpulan puisi baru. Bentuk puisi angkatan pujangga baru yaitu:

Puisinya berbentuk puisi baru, bukan pantun dan syair lagi.
Bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Persajakan (rima) merupakan salah satu sarana kepuitisan utama.
Bahasa kiasan utama ialah perbandingan.
Pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah.
Hubungan antara kalimat jelas dan hampir tidak ada kata-kata yang ambigu.
Mengekspresikan perasaan, pelukisan alam yang indah, dan tentram.

Puisi baru berdasarkan isinya, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

Balada adalah puisi berisi kisah atau cerita.
Himne adalah puisi pujaan untuk tuhan, tanah air, atau pahlawan.
Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup.
Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis atau kesedihan.
Satire adalah puisi yang berisi sindiran atau kritik.

Salah satu bentuk Puisi Baru bisa kita lihat dalam karya puisi Taufik Ismail. Berikut beberapa puisi baru yang termasuk dalam kumpulan puisi baru karya Taufik ismail:
Syair Lima Tahun Anak Asongan

Seorang anak kecil laki-laki
Berdiri di bawah matahari pagi
Matanya silau, kepala tak bertopi
Nanak, di mana kau kini?

Pagi itu, kau masih kelas enam
Mengepit koran di tangan kiri
Melambaikan tangan menangkap rezeki
Nanak, di mana kau kini?

Pagi lagi, kau sudah kelas satu
Kau tangkas berlari di sela kendara
Hidup begitu keras di ujung Jalan Pramuka
Bersaing di bawah terik matahari Jakarta
Nanak, kau kini di mana?

Pagi itu, kau naik kelas dua
Di bawah pohon kau duduk kecapekan
Dan kulihat kau istirahat baca koran
Tiap lima detik kau hirup debu jalanan
Nanak, kau di mana gerangan?

Pagi lagi, kau cerita kau kelas tiga
Kaki tetap kurus, kecil dan dekil
Terhimpit tiga warna lampu jalanan
Paru-paru muda penuh karbon dioksida
Nanak, kau kini di mana?

Siang itu, kau tak bisa naik ke kelas satu
Tak terbayar, begitu katamu
Kulihat basah kuyup kemejamu
Ini bulan Januari, cuma bukan hujan itu
Tapi cucuran air matamu
Nanak, kini di mana kamu?

(1990)

Tiga Tangga Sama, Kau Daki Berulang Kali

I

Di tahun empat lima ketika situasi berbalik kilat Setelah berpuluh tahun orang menunggu Ketika akhirnya jadi proklamasi dibacakan Perubahan secepat telapak tangan dibalikkan Tiba-tiba banyak saja orasi berapi-api Pidato patriotik berhamburan kosong Cuma sedikit dalam catatan yang berisi Pasukan Jepang ditelikung, senjata dilucuti Inggeris dan Belanda dilawan dengan revolusi
Di kawasan kumuh dan pedesaan, rakyat susah makan Begitu sabarnya, tanpa suara, mereka menantikan Dan akan terus kalian atas namakan

II

Di tahun enam enam ketika situasi berbalik berkelebat Setelah bertahun-tahun orang menunggu Pembunuhan kiri-kanan berlangsung mengerikan Perubahan secepat telapak tangan dibalikkan Tiba-tiba banyak saja orasi berapi-api Menyalahkan sana, membenarkan sini Pidato-pidato patriotik kosong berhamburan Cuma sedikit yang berisi, yang pantas didengarkan Orang-orang berebutan dan membagi-bagi kekauasaan
Di kawan kumuh dan pedesaan, rakyat makin susah makan Begitu sabarnya, tak bersuara, mereka selalu menantikan Dan bukankah mereka akan terus kalian atas namakan

III

Di tahun sembilan delapan, seperti geledek bersambaran Ketika situasi tiba-tiba berjalan balik-kanan Setelah empat windu orang pegal menunggu Beberapa detik perubahan mirip telapak tangan dibalikkan Tiba-tiba banyak betul orang entah dari mana orasi berapi-api Menuduh menyalahkan sana, menyombong membenarkan sini Merasa hebat, pintar dan benar sendiri Pidato-pidato patriotik begitu bising, hampa dan berserakan Cuma sedikit dapat dicatat yang agak berisi Saksikan adegan penculikan dan penembakan Luar biasa terjadi penjarahan dan pembakaran 100 juta orang jatuh miskin dan dihimpit pengangguran
Di kawan kumuh dan pedesaan, rakyat makin susah makan Begitu sabarnya, tak bersuara, mereka selalu menantikan Dan bukankah mereka akan terus kalian atas namakan.

(1998)


Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu

Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu
Bersama beberapa ribu kawanmu
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru
Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru
Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru
Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu
Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu
Sampai kini sejak kau lahir dahulu
Inilah pengakuan generasi kami, katamu
Hasil penataan dan penataran yang kaku
Pandangan berbeda tak pernah diaku
Daun-daun hijau dan langit biru, katamu
Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu
Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu
Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu
Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu
Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu
Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu
Maka kami bergeraklah kini, katamu
Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju
Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu
Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu
Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu
Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu
Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu
Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu.

(1998)

Menikmati kumpulan puisi baru ini bagaikan mengecap sapaan alam dalam bentuknya yang paling halus; semilir angin, rintik hujan, dan wangi bunga. Sederhana sekaligus menakjubkan. Info zona terlarang berita hot tren ramalan terbaru.
Rating: 4.5 out of 5

0 comments:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Zona Area Terlarang - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz