Kamis, 27 September 2012

Tokoh Perumusan Pancasila Dan Polemiknya

Mengenai tokoh Proses Perumus Pancasila dan polemiknya ini menurut sejarah banyak yang menyebutkan Pancasila adalah “kolaborasi” antara Mohammad Yamin beserta Soekarno. Namun, pada kenyataannya, dalam surat wasiat yang diberikan Moehammad Hatta kepada Guntur Soekarno Putra, anak tertua Soekarno, tertanggal 16 Juni 1978, dijelaskan oleh Hatta bahwa menjelang akhir Mei 1945, Radjiman Wediodiningrat, pemimpin BPUPKI membuka rapat dengan menanyakan dasar negara yang cocok bagi Indonesia.

pancasila


Salah satu peserta rapat, Bung Karno kemudian menyampaikan gagasan Pancasila pada 1 Juni 1945. Saat itu, Bung Karno merumuskan Pancasila sebagai berikut.

Nasionalisme
Internasionalisme atau humanitarianisme
Demokrasi
Kesejahteraan sosial
Kepercayaan pada Tuhan

Piagam Jakarta

Selanjutnya, Komisi Sembilan dari BPUPKI yang terdiri dari sembilan orang yang terbagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, mereka yang disebut Nasionalis Sekular, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, A.A. Maramis, dan Muhammad Yamin.

Di posisi lain, ada nasionalis agamis yang terdiri dari Abdul Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, Abikusno Tjokrosujoso, dan Abdul Wahid Hasjim. Perdebatannya tentu berkisar apakah Indonesia, dengan mayoritas penduduknya Muslim, akan “mengunggulkan” umat Islam atau tidak.

Hasil rapat Komisi Sembilan ini adalah perubahan dari Pancasila versi Soekarno di atas. Perubahan tersebut dikenal sebagai Piagam Jakarta yang dibuat pada 22 Juni 1945. Isinya sebagai berikut.

Ketuhanan Kepada Tuhan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Persatuan Indonesia.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Polemik

Menurut para Nasionalis Agamis dalam Komisi Sembilan di atas, term “dengan kewajiban menjalankan syariat bagi penganutnya” jelas hanya merujuk kepada umat Islam semata. Term ini penting untuk menghormati posisi umat Islam yang menjadi umat beragama terbanyak di negara kita. Term ini juga tidak akan mungkin disalahpahami dengan mengartikan adanya paksaan penggunaan syariat dalam negara kita.

Lebih jauh, bagi nasionalis agamis, Piagam Jakarta mirip dengan Piagam Madinah yang dibuat Nabi Muhammad saw. dalam mengelola Madinah. Kenyataannya, dalam komunitas Madinah, tidak ada yang dianak-tirikan karena berbeda agama. Bahkan, ada hadits Nabi, “Siapa pun muslim yang berani membunuh non-muslim (hanya karena merasa lebih kuat), tidak akan mencium bau surga”.

Akan tetapi, bagi kalangan nasionalis-sekular, term “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dianggap terlalu mengunggulkan sebuah kelompok. Oleh karena itu, digantilah term tersebut menjadi term “Ketuhanan Yang Maha Esa” saja dalam Pancasila revisi akhir.

Itulah sekilas sejarah tentang perumusan pancasila dan untuk info menarik lainnya bisa Anda cari tau disini zona terlarang - Blog berita hot trend ramalan terbaru serta tips & trik
Rating: 4.5 out of 5

0 comments:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Zona Area Terlarang - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz