Jumat, 22 Juni 2012

Cerita Sex Tante Lisa Yang Binal

Cerita Sex Tante Lisa Yang Binal yang di angkat dari Cerita Panas Seorang tante dengan keponakannya yang ingin merasakan kenimatan Sex yang bukan hanya cerita, langsung saja disimak Cerita Sex dari cerita panas dewasa berikut

Tante Cantik Bodi Montok dan Toket Gede.jpg

Biasanya aku sarapan pagi bersama papa dan mama, tapi pagi itu sarapan sendiri, karena papa dan mama pulang kampung ke Yogya mengajak Adit sepupuku, anak Tante Lisa adik mamaku. Di rumah hanya ada Aku dan Tante Lisa yang sedarah dengan ibuku.

Selesai sarapan, aku menaruh piring di cucian. Ketika melewati kamar mandi, pemandanganku terhenti memperhatikan Tante Lisa lagi mandi. Badannya membelakangi pintu sehingga tidak sadar pintu kamar mandi setengah terbuka. Tubuh tinggi padat berisi dan rambut hitam lebat panjang basah tersiram air menyebabkan sex aku muncul menggebu. Aku segera kembali ke kamar. Disana langsung onani menggunakan pelicin baby oil sambil membayangkan seolah sedang menyetubuhi Tante Lisa. Tiba-tiba terpikir olehku kenapa tidak sekali-kali minta Tante Lisa melayani sex aku? Bukankah dia juga pernah memergoki aku lagi onani di kamar?

Aku tidak menyelesaikan onaniku. Dengan penis mengacung tegang tanpa busana bagian bawah, aku menuju kamar madi. Ternyata Tante Lisa sudah selesai mandi dan ada di kamarnya. Kamar Tante Lisa yang tertutup langsung aku buka. Saat itu Tante Lisa sedang mengeringkan badan dengan handuk. Ia menjerit kaget. Tapi secepatnya Tante Lisa aku peluk dan aku dorong rebah ke tempat tidurnya. Ia meronta “jangan….Andre….. aku nggak mau…. Jangan….. aku takut…..”. Aku memaksanya sambil membentak “tante diam saja…. nurut aku”. Aku semakin kalap ketika Tante Lisa mendorongku dan akhirnya tangan Tante Lisa aku kunci ke belakang. Setelah beberapa kali meronta tidak berhasil, akhirnya Tante Lisa menangis sesenggukan. Aku mengendorkan pegangan tanganku dan mengusap air matanya “tante, maafin aku ya…. aku kepingin merasakan. Tante mau ya…. “. Kemudian Tante Lisa aku tarik berdiri dan aku peluk, aku ciumi. Penisku yang telah kendur kembali berdiri perkasa. Tante Lisa diam dan kedua tangannya menutup dada dan perut bawah. Sekali lagi aku membisikkan kata “tante,….. aku sayang sama mbak, maafin. Aku belum pernah merasakan seperti ini, beri aku sekali saja ya tante….”. Aku usap-usap keningnya dan aku dekatkan mukaku ke mukanya sampai hidungku bersentuhan dengan hidungnya. tante takut……tante…. nggak mau…. nanti papa dan mama marah kalau tahu dan …. tante takut hamil”. Aku peluk Tante Lisa dengan erat dan aku bisikkan kata “tante…. aku tahu caranya tidak hamil. Aku tidak keluarkan di dalam dan aku keluarkan di luar seperti onani. Aku ingin sekarang tante, mumpung papa dan mama juga tidak di rumah. Aku kepingin banget merasakan dari tante,…. boleh ya tante….”.

Setelah mendapatkan berbagai bujukan dan rayuan, nafas Tante Lisa melonggar dan kelihatan sedikit tenang. Kemudian ia semakin bisa menerima pelukanku yang tidak pernah lepas. Harum wangi sabun yang melekat di tubuh Tante Lisa menambah tinggi gairahku. Badan Tante Lisa aku balik searah dengan tubuhku. Penisku yang tegak berdiri menonjol ke pantatnya. Tanganku mengarah ke dadanya. Ternyata ia tetap tidak mau melepaskan kedua tangan yang menutupinya. Beberapa kali tanganku disibakkan. Akhirnya leherku menjulur dan mulutku menelusuri belakang telinga dengan kecupan lembut dan jilatan merangsang. Perlahan-lahan Tante Lisa bereaksi menengokkan kepala supaya lehernya tidak terjangkau mulutku. Setelah beberapa saat kemudian Tante Lisa bertambah tenang, tanganku berhasil menjangkau ujung buah dadanya. Dengan tarikan dan pelintiran halus di putingnya, Tante Lisa tidak melawan lagi. Tangan kananku melingkar meraba ke perut bawah tapi dengan sigap tangannya menyingkirkan tanganku. Ketika tanganku ke atas menuju buah dadanya kembali, ternyata ia membiarkan saja. Aku semakin yakin bisa berhasil menyetubuhi sehingga jariku dengan pelan mengusap gunung kenyal menonjol. Remasan halus di buah dada Tante Lisa dengan pijitan ke arah depan dan pelintiran perlahan di puting susu, menyebabkan Tante Lisa menarik nafas dalam.

Ketika mulutku mengisap tengkuknya dan kedua tanganku meremas gemas di kedua gunung kembarnya, nafas Tante Lisa mulai memburu. Aku melirik matanya terpejam. Tarikan nafas di mulutnya terdengar mendesis dan kepala yang semula tegak sudah dirobohkan ke pundakku. Aku mendudukkan dan merebahkan Tante Lisa ke tempat tidurnya dengan kaki menjuntai ke bawah. Mulutku mulai menelusuri gunung kembar sambil melepaskan baju kaus yang masih di badanku. Puting kecil kemerahan mulai aku sedot dengan mulutku dan satunya aku memelintir. Semakin ke bawah mulutku bergerak menelusuri perutnya, semakin panjang tarikan nafas Tante Lisa.

Ketika mulutku sampai ke belahan paha, lidahku menjulur memasuki lipatan basah dan menyusup ke dalam. Aku mencari daging kecil seperti yang aku lidat dalam tontonan VCD. Daging itu aku usap dengan ujung lidah. Tiba-tiba Tante Lisa menggelinjang dan tangannya meremas rambutku serta menekan ke dalam. Lidahku liar masuk ke liang vagina dan daging lembut menonjol itu aku permainkan dengan lidahku. Tante Lisa mengerang lembut sambil nafasnya sedikit tersengal dan kepalanya digoyangkan ke kanan dan kiri, aku segera mengakhiri permainan itu dan ganti penisku menyusup vagina Tante Lisa.

Posisiku berdiri dan badan Tante Lisa rebah di kasur dan kakinya menjuntai ke tanah. Ketika ujung penisku menyusup di ujung liang senggama, Tante Lisa membuka pahanya lebar sehingga memudahkan aku memasukkan penis. Untuk lebih memudahkan, maka kedua kakinya aku letakkan di atas pundak. Aku merasakan nikmat ketika penis makin masuk ke dalam dan akhirnya …. bles…. sampai pangkalnya. Tarikan dan dorongan sambil gerakan diputar menyebabkan gerakan kepala mbak Parmi ke kiri dan kanan semakin sering. Tiba-tiba ujung penisku seperti disedot dalam vagina sehingga aku mengocok maju mundur lebih cepat. Tante Lisa tiba-tiba mengejang dan pantatnya diangkat sambil mendesis suara tertahan “…….Waowwww…….ssss…..ooohhhahhh…..sessss…..aauuw…..ssss….”. Di penisku terasa ada gerakan denyut yang memeras. Begitu nikmat sehingga ujung penisku merasakan ada sesuatu yang mau keluar. Dengan cepat penisku aku cabut. Tumpahlah maniku di pahanya dan jatuh di ubin. Terasa badabku ringan dan otot-otot mengendur santai. Kemudian aku tertidur disisi Tante Lisa. Hari itu perjakaku hilang untuk Tante Lisa.

Aku terbangun dan Tante Lisa tidak ada disisiku. Aku mencarinya karena kawatir mbak Parmi minggat dari rumah. Aku menemukan mbak Parmi di gudang belakang duduk di lantai sambil menangis. Aku dekati dia dan aku usap rambutnya yang hitam panjang. Aku bisikan kata-kata “Tante, maafin aku ya….. aku telah khilaf membuat Tante Lisa marah”. Kemudian aku berkotbah tentang moralitas dan kebutuhan sex perempuan “Tante… bayangkan kalau aku tidak dikasih mbak Parmi, berarti aku dengan pelacur kan…. Tante Lisa pasti tahu seusiaku seperti ini kebutuhan penyaluran pasti sangat besar”. Kepala Tante Lisa aku jatuhkan ke pundakku “begitu juga kalau wanita nggak pernah melakukan senggama, dia cepat tua dan bisa kena kangker lho… dan yang menakutkan keinginannya bisa hilang..” Khotbahku panjang lebar mulai meluluhkan hatinya “Apapun yang telah terjadi…. aku berterimakasih aku lebih memilih Tante Lisa yang pasti bersih, sehat dan pernah punya pengalaman. Disamping itu Tante Lisa sangat sayang padaku”. Setelah aku merayu cukup lama, akhirnya Tante Lisa mau ku ajak makan siang. Untuk menambah kemesraan, sesekali Tante Lisa aku suapi.

Sambil makan aku mengemukakan keinginanku merasakan lagi. Semula Tante Lisa menolak, tapi akhirnya dia bersedia dengan syarat tidak boleh ada yang keluar dalam rahimnya. Aku setuju dan aku juga meminta ke Tante Lisa kalau merasa nikmat dan kepingin menjerit, jangan sungkan-sungkan. Kemudian aku keluar sebentar membeli jamu biar bisa main lebih lama. Tante Lisa aku minta menutup semua pintu agar tidak ada tamu yang mengganggu.

Aku dan Tante Lisa mandi bersama. Elusan dan remasan di buah dada dengan sabun cair menyebabkan Tante Lisa seperti tersihir dengan menciumi pipi dan bibirku seperti kesetanan. Kelihatan sekali nafsu Tante Lisa tiba-tiba berkobar luar biasa. Shower air hangat aku buka untuk mengakhiri mandi bersama. Tante Lisa aku peluk menghadap ke depan di bawah shower air hangat sambil kedua tanganku meremas dan menarik buah dadanya. Aku merasakan gejolak nafsunya Tante Lisa telah sampai puncak dengan ditandai dia menarik penisku untuk dimasukkan ke vaginanya. Secepatnya aku dan Tante Lisa mengeringkan badan dan menuju kamarku.

Pantatnya aku ganjal bantal sehingga vaginanya menonjol lebih tinggi. Aku susupkan penisku setahap-setahap dan tiba-tiba tanganku diraih Tante Lisa diletakkan ke buah dadanya. Aku remas kedua gunung kenyal itu dan pinggulku bergerak maju-mundur, sesekali diputar dan dalam hitungan tertentu hanya tudung penis yang masuk dan saat berikutnya dengan gerak menggenjot seluruh penis masuk sampai pangkal pinggul. Tante Lisa menggoyangkan pantat dan kepalanya bergerak kanan kiri.
“Ooooohhhhh……..aaaahhhhhhh……sssstttttttt……ttterrrruuuuuusssss ……… yaaaaaaahhhhhh.. tannnnte….. ma..u.. keluaaaarrrrrr ….. oohh..oohh..oohh…aahh..aahh..” . Tante Lisa tidak malu lagi mengeluarkan suara rintih dan jerit kenikmatan. Remasan di penisku dan suara rintih dan jerit kenikmatan yang dikeluarkan Tante Lisa menyebabkan aku tidak kuat menahan lebih lama. Ujung penis yang semakin mendesak menyebabkan aku cabut dari liang vagina dan …. croott……crootttt……croott…. maniku muncrat ke perut Tante Lisa.

Hari itu aku dan Tante Lisa bermain sampai puas. Pagi harinya Tante Lisa aku ajak ke dokter untuk pasang susuk KB. Sejak saat itu aku tidak perlu mencabut penis setiap kali maniku muncrat. Nikmat dan nikmat paling tinggi rasakan ketika penis dalam cengekeraman vagina disodokkan sampai pangkal sambil memuncratkan air mani.
Rating: 4.5 out of 5

0 comments:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Zona Area Terlarang - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz